How To Stop The Toxic Environment In Social Media? Let’s Talk About It!

Kamu pernah merasa cemas, gelisah, atau bahkan merasa ketakutan tanpa sebab saat bermain social media? mungkin kamu mengalami yang namanya Toxic Environment in Social Media.

Penting dari sekarang untuk kamu mengenali gejala-gejala Toxic disaat kamu mulai merasa ada yang salah atau keanehan pada dirimu saat bermain social media.

Instagram Apiary

Ramai nya akan persoalan Toxic Environment in Social Media tersebut, Apiary melalui Live On Instagram mengundang Irayana Dewanti (Creators Of Spoinon Podcast) dan Metta Ciu Listiyani (Creators dan Founder dari Spoinon Podcast) Menjadi narasumber pada event Apiary yang berjudul “How To Stop the Toxic Environment in Social Media?” Pada hari Senin, 25 januari 2021.

Spoinon adalah podcast yang berfokus pada pembahasan isu-isu sosial di kehidupan sehari hari. Salah satu episode terbarunya juga membahas mengenai Toxic Environment in Social Media.

Menurut Metta (Founder Spoinon), “Toxic Environment in Social Media adalah ketika kamu tidaklah lagi menemukan kenyamanan saat menggunakan social media, seperti rasa insecure yang selalu menyerang dirimu.”

Irayana (Creators Spoinon) juga berpendapat, “Toxic Environment in Social Media adalah ketika kamu sudah mulai merasa stress, cemas saat bermain social media, dan bukan lagi menjadi hal yang menyenangkan, tetapi malah jadi seperti bumerang pada diri kamu sendiri.”

So, Social Media sebenarnya berbahaya ga sih?

Social Media bisa menjadi berbahaya ketika, kamu menggunakannya secara berlebihan, seperti kamu terlalu mendramatisir social media, yang sebenarnya real life nya itu berbeda dengan yang ada di dunia social media.

Platform di semua social media tidak salah, yang salah hanyalah personal dari setiap masing-masing orang yang menggunakan social media. “Seperti bagaimana kamu mengaplikasikan social media ke dalam kehidupanmu, karena tidak 100% yg ada di sosial media adalah hal yang benar di kehidupan nyata mu” -Metta (Founder Spoinon)-

Bagaimana Cara Mengetahui Gejala Toxic ?

Menyimpulkan diri kamu toxic atau tidak adalah dengan menyadari ciri–ciri yang mulai berubah pada diri kamu, seperti setiap kamu membuka social media malah membuat dirimu selalu sedih, kesal, malu, atau insecure, hal tersebut akan menjadi hal yang biasa ketika kamu melihat konten social media yang diluar dari kemampuan mu. Tetapi, jika hal tersebut berlanjut secara terus menerus, maka gejala-gejala yang kamu rasakan tersebut harus cepat kamu sadari.

Gejala lain jika kamu mengalami toxic social media adalah ketika sosial media memunculkan gengsi di dalam diri kamu. Sebagai contoh adalah ketika kamu melihat teman kamu baru saja membeli suatu barang yang kemudian diunggah di sosial media, kamu merasa gengsi jika tidak membeli barang tersebut. Padahal, kita tidak sebegitu perlunya untuk memiliki barang tersebut. Contoh lainnya adalah ketika kamu menghapus konten yang ada di sosial media kamu karena gengsi melihat jumlah like and comment yang sedikit. Dari sinilah sifat insecure juga dapat muncul dalam diri. Kebiasaan ini harus dihentikan karena nantinya akan berpengaruh kepada mental pendirian kamu dan berpengaruh juga ke finansial kamu.

Triggered Awal Munculnya Toxic Berawal Dari Mana Sih?

Salah satu pemicu Toxic Social Media adalah ketika kamu merasa butuh pengakuan dari orang lain, yang tadinya sepertinya kamu hanya perlu branding diri di social media untuk membaguskan personal kamu didepan mata followers. Lalu, malah menjadi bumerang untuk diri kamu sendiri untuk berlomba-lomba membaguskan diri yang berubah menjadi Toxic.

Selain itu, toxic juga dapat muncul dari sifat insecure dan jealous. Dua hal ini juga dinilai menjadi penyebab umum munculnya sebuah toxic. Sebagai contoh adalah ketika kamu merasa insecure melihat teman yang makan di restoran murah. Selain menimbulkan toxic di sosial media, ternyata insecure dan jealous juga dapat menyebabkan toxic di ranah lain, misalnya di sebuah hubungan asmara, lingkungan pertemanan, dan lainnya.

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasinya?

  1. Puasa social media
    Toxic environment itu berbahaya sekali dan bisa membahayakan mental health seseorang. Jadi satu-satunya cara untuk menghindari toxic adalah kita harus bisa menggunakan social media secara bijak dan responsible. Bisa juga membatasi diri dengan melakukan Puasa Social Media.
    Kamu bisa mulai membatasi dirimu, dengan cara mengurangi main social media, seperti 1 jam sehari membuka instagram, unfollow account yang dirasa membuat diri kamu toxic, dan jika dirasa berat untuk unfollow kamu bisa saja cukup mute account tersebut, it’s easy to make happy. Kamu juga bisa membuat reminder untuk membatasi sosial media.
  2. Telusuri lagi alasan membuka sosial media
    Tak dapat dipungkiri, sosial media juga penting untuk kepentingan pekerjaan. Kepentingan tersebut diperkuat jika pekerjaan kita memang selalu berhubungan dengan sosial media. Sebagai contoh jika anda memiliki toko online yang market nya berbasis sosial media. Namun, tak jarang juga kita malah kebablasan untuk terus bermain sosial media. Gangguan-gangguan konten yang kita sukai seringkali hadir untuk mengganggu produktivitas kita menggunakan sosial media.
    Untuk menghindari hal tersebut, kamu dapat membuat reminder di handphone untuk mengingatkan kembali tujuan kamu membuka sosial media. Selain itu, kamu juga dapat membuat list waktu-waktu bagi kamu untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan sosial media. Kamu juga perlu menguatkan pendirian untuk tidak tergoda ketika melihat teman-teman kamu bersenang-senang yang kemudian diunggah melalui sosial media. Tentu saja, kamu tidak boleh tergoda dengan hal tersebut dan harus tetap fokus kepada pekerjaan kamu.
  3. Strategi follow and unfollow
    Strategi ini juga dirasa cukup berpengaruh pada pengurangan toxic yang diakibatkan oleh sosial media. Kamu bisa follow/mengikuti akun-akun yang dapat menginspirasi kamu. Sebaliknya, kamu juga bisa melakukan unfollow/berhenti mengikuti dari akun-akun yang dirasa akan menimbulkan toxic dari sosial media. Kamu bisa melakukan ini dengan kembali melihat daftar pengikut dan daftar mengikuti dari sosial media yang kamu miliki kemudian kamu dapat melakukan strategi follow and unfollow ini.
  4. Melakukan pembatasan diri
    Pembatasan diri dinilai perlu dilakukan untuk terhindar dari sebuah toxic. Pembatasan diri di sini berarti bahwa kamu harus membatasi diri dari sifat iri dan gengsi yang berada di sosial media. Kamu harus tahu hal-hal apa saja yang kamu butuhkan dan yang tidak kamu butuhkan. Jangan sampai kamu terjebak dalam toxic sosial media hanya karna kamu gengsi dan ingin mengikuti arus, apalagi jika sampai merugikan diri kamu sendiri. Karena, yang dapat mengetahui baik buruknya sebuah hal bagi kamu adalah kamu sendiri.
  5. Membuat hukuman
    Untuk dapat mengatasi toxic sosial media, kamu juga dapat membuat hukuman bagi diri sendiri. Hukuman tersebut tentu saja diperuntukkan agar kamu dapat mengurangi penggunaan sosial media untuk hal-hal yang tidak penting. Sebagai contoh adalah kamu bisa membuat komitmen ketika kamu bermain sosial media untuk melakukan julid, maka kamu bisa menghukum diri kamu dengan tidak membuka sosial media selama 6 jam. Tentunya, hukuman tersebut jangan sampai mengganggu produktivitas kamu ya!

Apakah kamu sudah siap untuk menghindari atau bahkan lepas dari toxic nya sosial media? Gunakanlah sosial media dengan bijak untuk menghilangkan toxic yang dihasilkan oleh sosial media. Tetap semangat dan semoga berhasil!

Artikel di atas merupakan rangkuman dari acara Apiary melalui Live On Instagram yang berjudul “How To Stop the Toxic Environment in Social Media?”. Anda juga bisa membaca artikel-artikel menarik lainnya terkait leadership dan entrepreneurship melalui Medium Apiary di
https://apiary-coworking.medium.com Selamat membaca, salam sukses!

Artikel ini ditulis oleh:
Nova Damayanti
Bima Nugroho

Copywriter Team at Apiary Co-working Space.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store