Memprediksi Masa Depan Bisnis Kreatif bersama Ishak Reza dan Hadi Ismanto

Industri bisnis kreatif merupakan salah satu bidang yang mengalami kemajuan dan perubahan yang luar biasa cepat. Menjadi hal yang umum apabila di tahun 2020, bisnis kreatif diminati oleh berbagai lapisan; dari perusahaan menengah hingga besar berlomba-lomba menawarkan produk yang inovatif dan cerdas. Menjelang 2021, tren bisnis kreatif seperti apa yang akan ramai dieksekusi?

Apiary melalui Creative Business Summit 2020 mengundang Ishak Reza (Lead Creative di Google Indonesia) dan Hadi Ismanto (Founder dan CEO di New Media Folder) mengisi sesi “The Future of Creative Business in Indonesia” pada hari Sabtu, 19 Desember 2020 silam.

Creative Business Summit adalah rangkaian acara yang diadakan selama 4 hari berturut-turut (16–19 Desember 2020), mengundang narasumber dari berbagai bidang dan mentarget peserta dari kalangan entrepreneur dan pelaku bisnis kreatif. Dari berbagai tema yang disajikan, melalui artikel ini, Apiary akan merangkum sesi “The Future of Creative Business in Indonesia” dan bersama-sama memprediksi; bagaimana masa depan bisnis kreatif di Indonesia?

Perkembangan Media Digital di Indonesia

Narasumber menuturkan bahwa perkembangan media sangatlah pesat. Setiap orang memiliki akses untuk mengelola dan mengembangkan bisnis melalui media. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah setiap orang memahami amanat dari media? Kalau tidak tahu maka hal tersebut akan menimbulkan masalah, karena akan merusak media itu sendiri. Perkembangan digital di Indonesia juga belum maksimal dalam melakukan ‘push’ dan eksekusi kreatifitas. Misalnya saja, selama pandemi berlangsung di tahun 2020, masyarakat mulai lelah dengan aktivitas daring.

Perkembangan digital di Indonesia pun dinilai mulai kehabisan tren ide. Hal senada juga diungkapkan Hadi Ismanto, menurutnya, berdasarkan survei mandiri terhadap konten yang ia buat, masyarakat lebih suka dan mengapresiasi original content; konten otentik dan edukatif yang bahkan masih sering di-remake seperti film dan tren fashion. Kafe dan street food yang sering kita temui pun tidak berusaha mengadaptasi budaya western, tetapi mengangkat kualitas masakan Indonesia itu sendiri yang dinilai sangat orisinil dan berkualitas. Selain itu, masyarakat juga lebih menyukai sesuatu yang dibahas secara mendalam. Mereka mulai bosan dengan hal yang hanya muncul di permukaan, namun memberikan perhatian lebih terhadap sesuatu yang lebih mendalam dan berbobot.

Jika dikaitkan dengan situasi pandemi di tahun 2020, orang-orang mulai lelah dengan aktivitas daring, maka tahun depan depan bersiap-siaplah untuk menghadapi Big Explosion’; a new level of online experiences. Kafe dan restoran harus siap dengan acara yang tidak hanya daring, namun juga menyajikan pengalaman baru dimana masyarakat dapat menikmati aktivitas daring yang berbeda.

Berdasarkan kondisi tersebut, kira-kira apa saja yang harus dipersiapkan? Menurut Hadi Ismanto, pandemi atau tidak pandemi, kita harus siap beradaptasi dengan sesuatu yang cepat. Hal tersebut memerlukan sustainability dan agility. Hadi Ismanto juga menjelaskan bahwa hal tersebut dapat dimulai dengan menghindari struktur yang buruk. Misalnya; untuk urusan approve satu konten copywriting harus melewati approval empat manajer. Padahal kita harus membiasakan diri dan siap dengan kecepatan itu sendiri. Selain itu, supaya kita dapat terus bertahan di dunia bisnis kreatif, penting untuk memiliki mental yang kuat dan tidak gampang merasa gagal: “Plan for the best and for the worse.”

Ishak Reza pun menambahkan, bahwa memilih partner diskusi yang tepat juga harus dipertimbangkan. “Diskusi dengan banyak orang dari lapisan manapun adalah salah satu cara untuk mendapatkan insight tertentu. Supaya kita dapat menciptakan sesuatu dengan sudut pandang yang luas.”

Mempersiapkan Diri Menghadapi Industri Bisnis Kreatif 2021

Belajar dari tahun 2020 yang bergantung terhadap keberadaan media, maka penting bagi kita untuk mulai mempersiapkan diri. Dari sisi psikologi misalnya, psikologi penting untuk melihat behaviour masyarakat. Termasuk memperhatikan sisi personalitas karena setiap individu memiliki sifat, selera, dan karakteristik yang berbeda-beda. Selain itu, belajar cepat tanggap terhadap perubahan juga harus ditingkatkan, terutama meningkatkan keterampilan soft skills di industri kreatif.

Terakhir, Hadi Ismanto berpesan supaya kita tidak terlalu larut dengan tren yang berujung dengan ikut-ikutan, tidak tahu visi dan tujuan mau dibawa kemana dan berakhir menjadi tidak transparan. Hal penting yang harus ditekankan adalah milikilah keunikan dan menjadi berbeda dari yang lainnya serta pemahaman bahwa bisnis kreatif adalah pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh robot. Itu adalah salah satu benefit yang sangat besar. Oleh karena itu, persiapkan dirimu secara maksimal dan milikilah kesempatan berkompetisi di dunia bisnis kreatif. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Jika kamu tertarik mendapatkan informasi mengenai event yang berkaitan dengan komunitas dan dunia bisnis kreatif, bergabunglah bersama kami di Apiary Co-working Space. Kunjungi instagram @apiary.co-working dan apiary.id untuk informasi dan penawaran menarik lainnya. See you!

Penulis : Stefani Ditamei (Copywriter Apiary Co-working Space)